welcome to my blog

Welcom To My Blog

3/27/2011

Fatwa MUI, Melindungi Umat


Fatwa MUI, Melindungi Umat


Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan 11 fatwa dalam Musyawarah Nasional (Munas) VII, antara lain tentang haramnya segala bentuk perdukunan dan peramalan. "Haram untuk mempercayai praktik-praktik perdukunan dan peramalan, mempublikasikannya dan memanfaatkannya," kata Ketua Komisi Fatwa Ma'ruf Amin di sela-sela Munas MUI VII di Jakarta Kamis (28/7), usai memimpin Rapat Komisi C yang membahas soal fatwa.
Dikatakannya, akhir-akhir ini banyak tayangan media massa memuat hal-hal mistis seperti perdukunan dan peramalan yang meskipun diperuntukkan untuk hiburan atau sekedar permainan, namun merupakan tindakan pembodohan dan bisa membawa masyarakat pada perbuatan syirik.
Sedangkan tentang Ahmadiyah MUI menetapkan kembali bahwa aliran yang mengaku Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad saw. ini adalah aliran yang berada di luar Islam dan yang menjadi pengikutnya adalah murtad, sehingga mengimbau mereka agar segera kembali ke jalan Islam yang sesuai dengan Al-Qu'ran dan Hadits. Pemerintah diminta melarang penyebaran aliran dan segala bentuk kegiatannya serta menutup organisasinya.
Fatwa inilah yang mendapatkan reaksi keras dari segelintir orang yang menyatakan diri dalam apa yang mereka sebut sebagai Aliansi Masyarakat Madani untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Diberitakan bahwa mereka yang terdiri dari antara lain Gus Dur, Dawam Raharjo, Johan Effendi, Syafii Anwar, Ulil Absar Abdalla, Pangeran Jatikusuma (penghayat Sunda Wiwitan), Romo Edi (KWI), Pdt Winata Sairin (PGI), di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (29/7) mendesak MUI mencabut semua fatwa yang memandang aliran lain yang berbeda karena dinilai seringkali dijadikan landasan untuk melakukan tindakan kekerasan dan keresahan.
"Saya menolak sekeras-kerasnya sikap seperti itu. Ini bukan negara Islam tapi negara nasional. Jadi ukurannya hukum nasional," kata Gus Dur dalam kesempatan yang juga dihadiri salah seorang anggota JAI, Lamaradi. Menurutnya, dalam negara Indonesia yang bukan negara Islam maka yang berwenang menentukan benar atau salah adalah Mahkamah Agung (MA), bukan MUI, karena itu dia mendesak MA segera mengeluarkan keputusan soal Ahmadiah.
Pernyataan lebih keras dilontarkan Dawam Raharjo. Dikatakannya, tindakan kekerasan terhadap warga JAI yang merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, terutama soal hak menjalankan keyakinan, bersumber dari fatwa MUI. Namun Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Makruf Amin menyatakan, MUI tidak akan mencabut fatwa soal Ahmadiah tersebut karena pihaknya hanya meluruskan persoalan. Dikatakannya, di negara-negara lain Ahmadiah juga dinyatakan sebagai aliran sesat.
Kalau kita mau berfikir lebih jernih, kita melihat bahwa fatwa MUI itu jelas untuk melindungi aqidah umat, keyakinan umat. Sisi inilah yang tidak dilihat oleh orang-orang yang terjebak oleh perangkap pemikiran Barat dan racun-racunnya yang bernama hak asasi manusia, kebebasan, pluralisme, dan sekularisme. Mereka adalah orang-orang yang dangkal dalam berfikir dan tidak adil dalam bersikap. Mereka menganggap bahwa aliran maupun keyakinan yang sesat dan menyimpang dari aqidah Islam yang qoth'i harus diberikan kebebasan untuk berkembang, meskipun menggerogoti aqidah umat. Merekapun membiarkan terjadinya kristenisasi dengan alasan kebebasan beragama. Tapi mereka tidak meberikan ruang bagi upaya memelihara aqidah umat dari upaya pemurtadan yang dilakukan oleh pihak lain. Bahkan mereka menganggap remeh fatwa MUI yang dulu juga sudah diputuskan di masa Buya Hamka rahimahullah.
Dan orang-orang tersebut sering menggunakan dalih bahwa negara ini bukan negara Islam. Jadi menurut logika mereka jangan bawa syariah untuk menentukan benar salah. Oleh karena itu, kerangka berfikir mereka bukanlah syariah, tapi sekularisme, liberalisme, dan pluralisme yang dalam fatwa MUI kali ini juga diharamkan. Jadi kelihatannya yang terakhir inilah yang justru paling mereka khawatirkan. Sedangkan kasus Ahmadiyah dan adanya "kekerasan" pada kasus Kampus Mubarok Parung, hanyalah sebagai trigger saja.
Kenapa mereka begitu mengkhawatirkan diharamkannya sekularisme, liberalisme, dan pluralisme dalam fatwa MUI di atas, padahal bukankah paham-paham tersebut adalah paham Barat yang asing dan bertentangan dengan Islam?. Bukankah paham-paham itulah yang selama ini telah memerangi umat Islam di seluruh dunia hingga umat ini lemah, terpecah-belah, dan tertindas oleh kolonialisme yang dilakukan bangsa-bangsa Barat? Bukankah tujuan perang yang mereka lakukan untuk melemahkan dan menindas kaum muslimin di berbagai negeri Islam adalah untuk menguras habis kekayaan kaum muslimin dan "kalau bisa" adalah merampas aqidah kaum muslimin?
Apakah mereka tidak pernah membaca warning dari Allah SWT yang telah berfirman: "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka mengembalikan (memurtadkan) kamu dari agamamu kalau sekiranya mereka mampu…" (QS. Al Baqarah 117).
Inilah yang seharusnya menjadi acuan mereka, kalau sekiranya mereka masih memiliki kepercayaan kepada kebenaran Al Quran. Namun mereka mencoba menutupi kebenaran itu. Bahkan mereka tidak peduli. Mereka melecehkan MUI dengan mengatakan bahwa ini bukan negara Islam.
Dimanapun negara yang masih sehat akalnya adalah melindungi keyakinan rakyatnya. Dan rakyat muslim di negeri ini yang jumlahnya lebih dari 202 juta adalah berkeyakinan aqidah Islamiyah. Keyakinan 87% dari 230 juta penduduk Indonesia itu tentunya memerlukan perlindungan dari negara dari berbagai rongrongan aqidah dan berbagai pemurtadan. Sebab aqidah merupakan fondasi (dasar) dari individu muslim dan masyarakatnya. Rusaknya aqidah umat akan membahayakan bangunan individu maupun masyarakat.
Argumentasi yang dilontarkan oleh pihak-pihak yang menolak fatwa MUI ini jelas merupakan argumentasi batil dan berbahaya. Argumentasi kebebasan ini merupakan buah dari pemahaman liberalisme yang berbahaya. Bisa kita bayangkan bagaimana masyarakat kita akan hancur kalau argumentasi kebebasan (liberalisme) ini dibiarkan dijadikan patokan. Praktik pornograpi maupun pornoaksipun akan bisa legal dengan alasan kebebasan ekspresi seni. Dengan alasan kebebasan ini pula nanti kelompok gay atau homoseksual minta eksistensinya diakui. Seperti yang terjadi di Barat , dengan alasan kebebasan mereka meminta perkawinan antara gay dan lesbian disahkan oleh negara. Kalau argumentasi kebebasan ini diterima, bukan tidak mungkin suatu saat nanti Bapak akan sah menikahi anaknya sendiri, sesama saudara kandung menikah. Alasannya satu yakni kebebasan menjalankan keyakinan, tanpa perduli apakah keyakinan itu sesuai dengan Islam atau tidak. Kita bisa bayangkan kalau itu terjadi , betapa hancurnya masyarakat kita. Jadi argumentasi liberalisme (kebebasan) ini harus kita tolak dengan tegas. Karena jelas-jelas akan mengancam umat dan kehidupan manusia.
Dalam Islam, ketika seorang keluar dari aqidah Islam, baik ia menjadi atheis, menjadi Kristen, menjadi Hindu, menjadi Yahudi, termasuk masuk kelompok yang jelas-jelas menyimpang dari aqidah yang qoth'i dengan menunjukkan kekufuran yang nyata, maka dia berarti murtad. Islam memiliki mekanisme hukum untuk menjaga dan memelihara aqidah umatnya lewat sebuah proses pengadilan negara yang adil; Pertama, orang yang murtad itu diminta bertobat (istitabah) dan dijelaskan kepadanya kesesatan dan kemurtadannya dan bahayanya bagi dia di akhirat, yakni akan terhapus amalannya dunia akhirat (QS. Al Baqarah 117). Kedua, manakala dia menolak, maka dia ditahan selama tiga hari untuk merenungkan kembali sikap dan keputusannya. Pengadilan juga akan mengajak dia berdiskusi tentang alasan kenapa dia murtad lewat proses dialog yang terbuka berdasarkan aqidah dan syariah Islam. Bisa jadi ada pahamannya yang keliru yang perlu diluruskan. Bisa jadi orang tadi murtad karena tidak mengerti atau dipaksa. Ketiga, manakala dia tetap dalam kemurtadannya, maka negara menjatuhkan hukuman mati berdasarkan hadits Nabi: "Siapa yang mengganti agama (Islam)-nya, maka bunuhlah" (HR. Muslim).
Jadi itulah yang harus dilakukan oleh negara. Fatwa MUI bisa dijadikan landasan oleh negara untuk mengambil tindakan hukum dalam rangka melindungi keyakinan rakyatnya. Jadi fungsi fatwa ini memang tidak bisa efektif bilamana negara tidak mengambil tindakan hukum. Karena, eksekusi, apalagi menyangkut nyawa manusia, tidak mungkin dilakukan oleh MUI, apalagi masyarakat. Ini adalah tugas dan tanggung jawab negara. Oleh karena itu, adalah tindakan bodoh menyuruh MUI mencabut fatwa yang melindungi aqidah umat yang merupakan mayoritas penduduk negeri ini dan apalagi menudingnya sebagai penyebab tindakan kekerasan. Justru kita harus memberikan dukungan yang kuat terhadap fatwa MUI ini. MUI , yang merupakan tempat para ulama berkumpul, telah menjalankan perannya secara baik dan berani untuk melindungi aqidah umat Islam. Memang inilah peran penting ulama melindungi umatnya dari bahaya kehancuran. Meskipun, pastilah pihak-pihak yang ingin menjadikan negara ini sekuler dan liberal, t! idak akan menyukainya.
Terjadinya tindakan kekerasan, tentunya kita sesalkan. Seharusnya hal ini tidak terjadi. Namun juga harus dilihat tindakan kekerasan ini muncul akibat negara tidak menjalankan perannya dengan baik. Negara seharusnya bertanggung jawab untuk memelihara aqidah umat Islam. Persoalan ini menjadi berkembang karena negara lalai dalam masalah ini. Perkara inilah yang menyebabkan sebagian masyarakat gelisah dan bertindak sendiri. Sebenarnya kelalaian negara tampak bukan dalam masalah ini saja. Lihat saja sering terjadi pengrusakan terhadap tempat-tempat maksiat , karena negara membiarkan praktik maksiat yang meresahkan masyarakat tersebut berkembang. Kalau negara sejak awal bertindak tegas mencegah kemaksiatan tersebut , pastilah tindakan kekerasan oleh rakyat tidak akan terjadi. Maraknya tindak kekerasan ini mencerminkan semakin menipisnya kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan negara. Sudah menjadi rahasia umum yang diketahui luas, tidak sedikit aparat negara yang justru meli! ndungi praktik maksiat yang menyimpang tersebut. Adalah lucu, mengkritik fatwa MUI sebab penyebab kekerasan , sementara penyebab utama kekarasan ini, yakni lalainya negara tidak dikritisi.
Bukankah negara adalah perisai bagi umat sebagaimana sabda Nabi saw.: "Imam (kepala negara) itu bagaikan perisai, umat dilindunginya dari perang (yang dilakukan siapapun) dan ia menjadi tempat berlindung" (HR. Muslim).
Semoga dengan kejadian ini umat bisa menilai, siapa sebenarnya yang berjuang melindungi mereka dan siapa yang sebenarnya memberikan jalan kepada musuh untuk memerangi mereka.
Wallaahu muwaffiq ila aqwamit thariiq!

Doa sebelum tidur

By: CHRISgun


Seorang ayah bingung mendengarkan doa putrinya yang masih kecil ketika akan tidur, "Tuhan, lindungi ibu, lindungi ayah, lindungi nenek, dan terimalah kakek." "Kenapa doamu untuk kakek bunyinya seperti itu?" tanya ayahnya. Si Kecil menjawab, "Nggak tahu, Yah. Aku pengen aja ngomong seperti itu." Entah apa yang terjadi, keesokan harinya sang kakek meninggal dunia. Suatu kebetulan yang sangat aneh, pikir si ayah. Beberapa hari kemudian sang ayah menidurkan kembali putrinya dan mendengar si anak berdoa, "Tuhan, lindungi ibu, lindungi ayah, dan terimalah nenek. " Dan keesokan harinya, sang nenek meninggal dunia. Astaga, pikir si ayah, anak gua bisa berkomunikasi dengan alam gaib! Seminggu kemudian si ayah kembali mendengarkan anaknya berdoa, "Tuhan, lindungi ibu dan terimalah ayah." Deg! Kontan saja sang ayah terkejut. Malam itu ia nggak bisa tidur memikirkan kejadian yang akan menimpanya besok pagi. Ketika mengemudi sampai kantor pikirannya nggak karuan. Jam makan siang telah lewat, namun tidak terjadi apa-apa. Si ayah makin cemas. Ia memilih menghabiskan hari itu di kantor, minum kopi dan begadang menunggu tengah malam tiba. Ketika jarum jam menunjukkan 00.01, si ayah lega. Hari itu telah lewat dan ia masih selamat. Dengan langkah ringan ia pun kembali kerumah. "Ya, ampun... tumben-tumbennya kamu kerja lembur. Ada apa sih?"
tanya istrinya ketika membukakan pintu. "Aku nggak mau ngomongin masalah ini. Pokoknya hari ini adalah hari terburuk dalam hidupku," kata si suami. Kata istrinya, "Kalau kamu mendengar cerita yang akan aku sampaikan. Kamu pasti nggak akan menyangka kalau hari ini lebih buruk dari yang kamu duga. Tahu nggak, tadi pagi Mas Joni tetangga sebelah meninggal dunia ketika
betulin jemuran belakang rumah."
Ayah :??????????????????????

Detik-detik Rasulullah SAW Menjelang Sakratul Maut


Detik-detik Rasulullah SAW Menjelang Sakratul Maut

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah,
"Wahai umatku,  kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku". Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya.Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.  Dialah malakul maut," kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa  Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah? "Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,"kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini? "Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"  "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.  


Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
 "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh.  Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril? "Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.  " Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi.  Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis  shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni  orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali  mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii...” Umatku, umatku, umatku" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wasalim 'alaihi
*****
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kirimkan kepada sahabat-2 muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencinta kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.



Bolehkah Berdoa di Kuburan


Bolehkah Berdoa Di Kuburan…?
Apa Hukumnya Kemenyan Dan Mandi Kembang…?

Berdoa, atau bertawasul, atau berdzikir, itu dimana saja, boleh tawassul dari rumah, atau di kamar, atau di masjid, atau di kuburan, atau dimana saja, pastilah mungkin hati kita yang sudah tertular virus sekte sesat ini akan langsung alergi bila mendengar DOA DI KUBURAN, ketahuilah berdoa di kuburan pun sunnah Rasul saw, beliau berdoa di Pekuburan Baqii, dan berkali-kali beliau saw melakukannya. Dan (Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan Salam untuk ahli kubur dengan ucapan Assalaamu alaikum Ahliddiyaar minalmuminin walmuslimin, wa Innaa Insya Allah Lalaahiquun, As alullah lana wa lakumul aafiah.. Salam sejahtera atas kalian wahai penduduk penduduk dari Mukminin dan Muslimin, Semoga kasih sayang Allah atas yang terdahulu dan yang akan datang, dan Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul kalian) (Shahih Muslim Bab 35 hadits no 974.975,976. *3 hadits dalam makna yang sama). Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul saw bersalam pada Ahli Kubur dan mengajak mereka berbincang-bincang dengan ucapan Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul kalian.
Demikian pula tawassul, karena tawassul adalah doa kepada Allah, bila anda menuju makam untuk berziarah, berdoalah kepada Allah, Wahai Allah, Demi orang-orang yang bermunajat pada Mu, Demi orang-orang yang Bersemangat kepada keridhoan Mu, Demi langkahku ini, atau dengan tawassul menyebut nama sebagaimana Rasul saw menyebut Demi para Nabi sebelumku.. atau misalnya Wahai Allah, Demi Ahlul Badr, atau Demi Muhajirin dan Anshar, atau Demi Ruku dan Sujudnya para wali Mu, atau menyebut nama mereka sebagaimana Rasul saw menyebut nama para malaikat. Toh doa-doa ini kepada Allah, berperantarakan ketaatan para hamba-hamba-Nya, memang manusia hidup dan mati, namun amal shalihnya tetap kekal.
Anda ingat peristiwa Adam as?, mengapa malaikat diperintahkan sujud pada makhluk?, karena para malaikat itu sujud pada Adam as bukan menyembah Adam as, tetapi menyembah Allah.. karena jutsru sujud pada Adam itu adalah ketaatan, namun apa yang dilakukan Iblis?, pada dasarnya Iblis hanya ingin sujud kepada Allah semata, tak mau memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, dan jatuhlah ia kepada Laknat Allah, maka orang yang tak mau memuliakan orang yang dimuliakan Allah swt adalah para pengikut Iblis, naudzubillahi min dzalik.
Wahai saudaraku, jangan alergi dengan kalimat syirik, syirik itu adalah bagi orang yang berkeyakinan ada Tuhan Lain selain Allah, atau ada yang lebih kuat dari Allah, atau meyakini ada tuhan yang sama dengan Allah swt. Inilah makna syirik. Mereka yang berkemenyan, sajen dlsb itu, tetap tak mungkin kita pastikan mereka musyrik, karena kita tak tahu isi hatinya, sebagaimana Rasul saw murka kepada Usamah bin Zeyd r.a yang membunuh seorang pimpinan Laskar Kafir yang telah terjatuh pedangnya, lalu dengan wajah tak serius ia mengucap syahadat, lalu Usamah membunuhnya, ah? betapa murkanya Rasul saw saat mendengar kabar itu.., seraya bersabda : APAKAH KAU MEMBUNUHNYA PADAHAL IA MENGATAKAN LAA ILAAHA ILLALLAH..?!!, lalu Usamah ra berkata: Kafir itu hanya bermaksud ingin menyelamatkan diri Wahai Rasulullah.., maka beliau saw bangkit dari duduknya dengan wajah merah padam dan membentak : APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA KAU TAHU ISI HATINYA??!!!, lalu Rasul saw maju mendekati Usamah dan mengulangi ucapannya : APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA KAU TAHU ISI HATINYA??!!!, Usamah ra mundur dan Rasul saw terus mengulanginya : APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA KAU TAHU ISI HATINYA??!!!, hingga Usamah ra berkata : Demi Allah dengan peristiwa ini aku merasa alangkah indahnya bila aku baru masuk islam hari ini..(maksudnya tak pernah berbuat kesalahan seperti ini dalam keislamanku). (Shahih Muslim Bab 41 no. 158 dan hadits yang sama no.159)
Dan juga dari peristiwa yang sama dengan riwayat yang lain, bahwa Usamah bin Zeyd ra membunuh seorang kafir yang kejam setelah kafir jahat itu mengucap Laa Ilaaha Illallah, maka Rasul S.A.W memanggilnya dan bertanya : MENGAPA KAU MEMBUNUHNYA..?!, Usamah menjawab : Yaa Rasulullah, ia telah membunuh fulan dan fulan, dan membantai muslimin, lalu saat kuangkat pedangku kewajahnya maka ia mengatakan Laa Ilaaha illallah.., lalu Rasul saw menjawab : LALU KAU MEMBUNUHNYA..?!!, Usamah r.a menjawab : benar, maka Rasulullah saw berkata : APA YANG AKAN KAU PERBUAT DENGAN LAA ILAAHA ILLLALLAH BILA TELAH DATANG HARI KIAMAT..?!!, maka Usamah berkata : Mohonkan pengampunan bagiku Wahai Rasulullah??, Rasul saw menjawab dengan ucapan yang sama : APA YANG AKAN KAU PERBUAT DENGAN LAA ILAAHA ILLLALLAH BILA TELAH DATANG HARI KIAMAT..?!!!, dan beliau terus mengulang ulangnya.. (Shahih Muslim Bab 41 no.160).
Kita tak bisa menilai orang yang berbuat apapun dengan tuduhan syirik, dia berkomat kamit dengan sajen dan mandi sumur tujuh rupa dan segala macam kebiasaan orang kafir lainnya, ini merupakan adat istiadat biasa, tak mungkin kita mengatakannya musyrik hanya karena melihat perbuatannya, kecuali ia berikrar dengan lidahnya. Satu contoh, seorang muslim mandi air kembang, berendam di air mawar, lalu menaruh keris di pinggangnya, lalu menyalakan kemenyan, lalu ia shalat, musyrikkah ia?, dan orang lain mandi dengan shower, berendam di air hangat, menggunakan busa mandi, lalu menaruh pistol dipinggangnya, lalu menyemprotkan pewangi ruangan, lalu shalat, musyrikkah dia?, apa bedanya?, keduanya melakukan kebiasaan orang kafir..
Kesimpulannya adalah, tidak ada kalimat musyrik bisa dituduhkan kepada siapapun terkecuali dengan kesaksian lidahnya. Hati-hatilah dengan ucapan syirik, bila seseorang muslim lalu musyrik, maka pernikahannya batal, istrinya haram dikumpulinya, jima dengan istri terhitung zina, anaknya tak bernasab padanya, kewaliannya atas putrinya tidak sah, dan bila keluarganya wafat ia tak mewarisi dan bila ia wafat tak pula diwarisi, ia diharamkan shalat, diharamkan dikuburkan di pekuburan muslimin.
Saran saya, berziarahlah kubur bila anda berkenan, dan palingkan pandangan dan sangka buruk dari mereka yang bertaburan menyan dan kembang dan lain sebagainya, jangan sesekali menuduh mereka musyrik, mungkin hati mereka musyrik, tapi kita dimurkai Rasul saw bila menuduhnya. Bila anda selesai berziarah, ada baiknya anda menyalami mereka dan dengan senyum hangat anda memberi mereka hadiah Al Quran, dan katakanlah : Wahai Tuan, para Sunan dan wali songo itu mempunyai kesenangan dan kegemaran, dan mereka akan senang bila Tuan mengamalkan kegemaran dan amal mereka, pastilah serta merta mereka akan bertanya dengan sigap..apakah kegemaran mereka??!!, jawablah dengan lembut dan berwibawa : Mereka siang malamnya asyik dengan Al Quran.. pasti Tuan akan disayangi mereka bahkan disayang Allah bila asyik membaca Al Quran, Nah..ini saya hadiahkan pada tuan, barang yang paling disayangi oleh Para Wali dan Sunan..
DAN HAMBA HAMBA ARRAHMAN (ALLAH SWT) YANG BERJALAN DIMUKA BUMI DENGAN RENDAH DIRI, (tidak sombong), DAN BILA MEREKA DIAJAK BICARA OLEH ORANG ORANG JAHIL, MAKA MEREKA MENJAWABNYA DENGAN LEMBUT (Alfurqan-63).
Wallahu alam.